JAKARTA - Harga minyak mentah mencapai level tertinggi sejak September 2024, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Dolar AS yang melemah turut memperkuat sentimen kenaikan ini. Brent berjangka ditutup naik 1,23 persen menjadi USD 68,40 per barel, sementara WTI AS meningkat 1,31 persen ke level USD 63,21 per barel.
Kenaikan tersebut menjadi indikasi tren bulanan terbesar sejak Juli 2023. Brent diperkirakan naik sekitar 12 persen dan WTI sekitar 10 persen. Lonjakan ini mendorong pelaku pasar untuk memantau perkembangan geopolitik lebih dekat.
Presiden AS menekankan perlunya Iran kembali ke meja perundingan terkait senjata nuklir. Ancaman serangan lebih lanjut akan terjadi jika kesepakatan tidak tercapai. Iran menegaskan kesiapan untuk melawan balik dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kehadiran Armada AS di Timur Tengah
Kehadiran kapal induk dan kapal perang AS di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran pasar. Analis mencatat harga sempat naik karena sentimen geopolitik. Namun, potensi perdamaian Rusia-Ukraina sempat menahan laju kenaikan tersebut.
Negosiasi trilateral antara Rusia, Ukraina, dan AS dijadwalkan berlangsung di Abu Dhabi. Pertemuan ini diharapkan dapat memengaruhi kestabilan pasar energi global. Para pelaku pasar memandangnya sebagai faktor penting untuk menentukan arah harga minyak ke depan.
Penurunan Persediaan Mendukung Kenaikan
Penurunan kapasitas penyimpanan minyak di AS memberikan dorongan tambahan bagi harga. Persediaan minyak mentah turun sebesar 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel. Hal ini melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan persediaan sebesar 1,8 juta barel.
Analis menyebutkan laporan ini menunjukkan peningkatan moderat pada bensin dan distilat. Ekspor minyak yang kuat dan penurunan impor turut berkontribusi pada penurunan stok. Dampak cuaca dingin diprediksi akan tercermin pada laporan berikutnya.
Produksi Domestik dan Faktor Global Lainnya
Badai musim dingin yang melanda AS menyebabkan tekanan pada infrastruktur energi. Produsen minyak AS mulai mengoperasikan kembali sumur-sumur mereka. Penurunan produksi domestik diperkirakan mencapai 600.000 barel per hari, atau sekitar 4 persen dari total produksi.
Produksi di Kazakhstan juga menurun sementara, memengaruhi pasokan global. Anggota OPEC+ berharap produksi di Lapangan Tengiz kembali secara bertahap. Namun, beberapa sumber menyebut pemulihan bisa memakan waktu lebih lama dari perkiraan.
Dolar AS yang melemah menjadi faktor tambahan yang mendorong harga minyak tetap tinggi. Komoditas yang dinilai dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Hal ini meningkatkan daya tarik minyak sebagai aset perdagangan global.
Kebijakan Moneter dan Prospek Pasar Energi
Federal Reserve mempertahankan suku bunga, menekankan inflasi yang masih tinggi. Pertumbuhan ekonomi AS tetap solid, sehingga kebijakan moneter cenderung stabil. Pernyataan bank sentral memberikan sedikit indikasi tentang potensi penurunan suku bunga di masa mendatang.
Pasar energi global menyambut baik stabilitas ini karena memberikan kepastian terhadap pergerakan harga minyak. Investor mulai menilai risiko dan peluang dalam jangka menengah. Optimisme berkembang seiring kesadaran bahwa ketegangan geopolitik dan faktor pasokan menjadi pemicu kenaikan harga yang berkelanjutan.
Kenaikan harga minyak kini dianggap sebagai momentum positif bagi pelaku industri energi. Produsen dan eksportir menyesuaikan strategi untuk memanfaatkan kondisi pasar. Sementara itu, konsumen global mulai mencari alternatif untuk mengantisipasi volatilitas harga yang masih mungkin terjadi.