JAKARTA - Harga batu bara akhirnya menunjukkan penguatan setelah empat hari sebelumnya mengalami penurunan.
Pada perdagangan terbaru, harga mencapai US$109,5 per ton, naik 0,5% dibandingkan sebelumnya. Kenaikan ini memutus tren negatif yang sempat membuat harga ambruk hingga 3,53% dalam empat hari beruntun.
Peningkatan harga terjadi bersamaan dengan kabar positif dari Amerika Serikat dan China. Lonjakan permintaan listrik di AS menjadi faktor utama penguatan harga. Perubahan cuaca ekstrem menjadi salah satu pemicu naiknya penggunaan batu bara di pembangkit listrik.
Kondisi pasar global saat ini memengaruhi sentimen pelaku industri batu bara. Harga dipengaruhi oleh ketersediaan dan permintaan dari berbagai negara. Pergerakan harga juga mencerminkan pola konsumsi energi yang berubah seiring musim dan kondisi cuaca.
Dampak Badai Musim Dingin di Amerika
Badai Musim Dingin Fern melanda sebagian wilayah AS dan meningkatkan kebutuhan energi secara signifikan. Pembangkitan listrik berbasis batu bara meningkat 31% dibandingkan pekan sebelumnya di 48 negara bagian daratan.
Kenaikan ini membalikkan tren penggunaan batu bara pada awal Januari yang lebih rendah karena cuaca hangat.
Selain batu bara, pembangkit listrik gas alam juga mengalami peningkatan output sebesar 14%. Sementara itu, energi terbarukan seperti surya, angin, dan hidro menunjukkan penurunan produksi. Produksi listrik nuklir relatif stabil, menunjukkan ketergantungan sebagian besar pada batu bara dan gas alam saat cuaca ekstrem.
Badai musim dingin menjadi momen penting bagi operator jaringan listrik untuk memanfaatkan pembangkit batu bara. Saat permintaan melonjak, armada pembangkit ini menjadi andalan untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil. Pola ini juga terlihat pada gelombang dingin ekstrem pada tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi Pasar Batu Bara di China
Di China, harga batu bara termal domestik menunjukkan penguatan tipis di pelabuhan utara. Kenaikan harga didukung ketersediaan yang semakin terbatas serta utilitas yang melakukan restock menjelang liburan. Meski demikian, ruang kenaikan terbatas karena permintaan diperkirakan menahan diri mendekati libur Tahun Baru Imlek.
Sentimen berhati-hati masih mendominasi pasar thermal coal China. Pelaku pasar cenderung mengevaluasi pembelian menjelang periode liburan panjang. Namun, terdapat sinyal kenaikan harga di beberapa wilayah tambang utama karena penambang besar menaikkan harga tawaran mereka.
Kenaikan harga dari penambang utama memengaruhi harga di pasar yang lebih luas. Strategi ini menjadi indikator bagaimana pasokan batu bara domestik memengaruhi pergerakan harga global. China tetap menjadi pemain penting yang mampu memengaruhi pasar internasional.
Tren Penggunaan Batu Bara di India
Di India, penggunaan pembangkit listrik tenaga uap batu bara menurun untuk pertama kalinya dalam setengah abad.
Penurunan mencapai 3% karena lonjakan produksi listrik bersih, berkurangnya permintaan pendingin udara, dan perlambatan pertumbuhan konsumsi listrik. Fenomena ini menandai pergeseran potensial dalam penggunaan energi konvensional.
Meski terjadi penurunan, batu bara masih menjadi sumber listrik dominan di India. Pembangkit lain seperti nuklir dan hidro tetap berperan, namun kontribusi mereka masih terbatas dibandingkan batu bara. Penurunan ini tetap memiliki implikasi penting terhadap emisi karbon dan perubahan iklim global.
Keterbatasan fleksibilitas pembangkit batu bara membuat India sulit memanfaatkan kapasitas energi terbarukan sepenuhnya. Pembatasan ini menjadi tantangan dalam transisi menuju energi bersih. Batu bara tetap menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional.
Prospek Harga dan Konsumsi Global
Secara umum, penguatan harga batu bara di berbagai negara menunjukkan pola konsumsi energi yang dinamis. Cuaca ekstrem, liburan, dan ketersediaan pasokan menjadi faktor penentu pergerakan harga. Kenaikan harga memberikan sinyal positif bagi produsen dan investor di sektor batu bara.
Di sisi lain, ketergantungan pada batu bara tetap tinggi di AS dan India. Permintaan meningkat ketika sumber energi lain mengalami penurunan output. Pasar global akan terus memantau faktor-faktor cuaca dan ketersediaan pasokan untuk menentukan tren harga selanjutnya.
Kesimpulannya, meski terdapat pergeseran menuju energi terbarukan, batu bara tetap menjadi komponen penting dalam pembangkitan listrik dunia. Harga yang naik dan turun mengikuti dinamika permintaan global serta kondisi cuaca.
Pola ini menegaskan bahwa batu bara masih menjadi sumber energi strategis untuk menjaga kestabilan pasokan listrik.