JAKARTA - Minat masyarakat terhadap investasi emas terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi ketidakpastian ekonomi global mendorong banyak orang mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman. Salah satu indikatornya terlihat dari meningkatnya jumlah nasabah layanan bullion bank milik PT Bank Syariah Indonesia Tbk.
Sejak layanan tersebut diluncurkan pada Februari 2025, jumlah nasabah bullion BSI melonjak lebih dari 400 persen. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa investasi emas semakin diterima oleh berbagai kalangan masyarakat. Layanan ini juga memberikan kemudahan akses bagi masyarakat yang ingin berinvestasi emas secara lebih praktis.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menjelaskan bahwa layanan bank emas atau bullion bank memiliki peran strategis dalam memperkuat bisnis emas perseroan.
Selain itu, layanan ini juga membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk berinvestasi emas secara inklusif. Kehadiran layanan tersebut diharapkan mampu memperluas ekosistem keuangan syariah di Indonesia.
“Bullion bank menjadi milestone penting bagi BSI dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional. Kami ingin menjadikan emas tidak hanya sebagai instrumen lindung nilai, tetapi juga sebagai bagian dari sistem keuangan yang produktif dan inklusif,” ujar Anggoro.
Bullion Bank Perkuat Ekosistem Keuangan Syariah
Layanan bullion bank merupakan bagian dari inisiatif strategis pemerintah dalam membangun ekosistem pengelolaan emas nasional. Program ini menjadi salah satu langkah untuk mengoptimalkan potensi emas sebagai instrumen keuangan. Melalui sistem tersebut, masyarakat dapat mengakses layanan investasi emas dengan lebih mudah dan transparan.
Program bank emas tersebut diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 26 Februari 2025. Peresmian itu dilakukan setelah Otoritas Jasa Keuangan memberikan izin kegiatan usaha bullion kepada BSI dan Pegadaian. Kehadiran regulasi ini menjadi dasar pengembangan layanan investasi emas di sektor perbankan syariah.
Karakter layanan bullion yang mudah diakses secara digital serta berbasis prinsip syariah membuat investasi emas semakin diminati. Kemudahan akses tersebut memberikan peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam investasi emas tanpa harus melalui proses yang rumit. Hal ini turut memperluas basis investor emas di Indonesia.
Perkembangan tersebut juga memperlihatkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan investasi berbasis syariah. Sistem yang transparan dan sesuai prinsip syariah menjadi salah satu daya tarik utama. Kondisi ini mendorong pertumbuhan nasabah layanan emas di BSI secara signifikan.
Partisipasi Generasi Muda Terus Meningkat
Pertumbuhan nasabah bullion bank tidak hanya datang dari kalangan investor lama. Generasi muda juga mulai menunjukkan minat yang semakin besar terhadap investasi emas. Hal ini terlihat dari peningkatan komposisi nasabah emas dari kalangan generasi Z.
Data menunjukkan bahwa komposisi nasabah emas dari generasi Z meningkat dari 24 persen menjadi 32 persen. Peningkatan tersebut mencerminkan perubahan pola investasi generasi muda yang mulai memanfaatkan instrumen emas. Tren ini juga memperlihatkan bahwa emas semakin relevan sebagai pilihan investasi jangka panjang.
Secara keseluruhan, jumlah nasabah BSI pada tahun 2025 bertambah lebih dari dua juta orang. Dengan pertumbuhan tersebut, total nasabah perseroan kini mencapai lebih dari 23 juta nasabah. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak merger bank syariah nasional pada tahun 2021.
Meningkatnya jumlah nasabah juga menunjukkan bahwa layanan keuangan syariah semakin dipercaya masyarakat. Inovasi produk dan layanan yang terus dikembangkan menjadi faktor penting dalam menarik minat investor baru. Dengan dukungan teknologi digital, akses investasi juga menjadi semakin luas.
Pertumbuhan Bisnis Emas dan Layanan Terintegrasi
Selain meningkatkan jumlah nasabah, layanan bullion bank juga mendorong pertumbuhan bisnis emas BSI secara signifikan. Hingga saat ini total emas kelolaan perseroan telah mencapai 22,5 ton. Pencapaian tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam pengelolaan investasi emas.
Anggoro menjelaskan bahwa kehadiran bullion bank melengkapi ekosistem layanan emas BSI yang sudah ada sebelumnya. Layanan tersebut mencakup berbagai produk seperti cicil emas dan gadai emas. Integrasi produk ini memungkinkan nasabah mendapatkan layanan investasi emas secara lebih lengkap.
Dengan adanya bullion bank, BSI kini memiliki layanan emas yang terintegrasi mulai dari perdagangan emas hingga penyimpanan emas. Selain itu tersedia pula layanan cicil emas, gadai emas, dan produk BSI Gold. Integrasi tersebut memberikan fleksibilitas bagi nasabah dalam mengelola investasi emas.
Anggoro juga menegaskan bahwa seluruh transaksi emas di BSI dilakukan sesuai prinsip syariah. Setiap transaksi memiliki underlying berupa emas fisik yang tersimpan di fasilitas penyimpanan perseroan. Hal ini memberikan jaminan transparansi serta keamanan bagi nasabah yang berinvestasi emas.
“Kami tidak diperbolehkan menjual barang yang belum dimiliki. Karena itu seluruh transaksi emas di BSI dipastikan memiliki underlying berupa emas fisik yang tersimpan di vault kami,” kata Anggoro.
Kontribusi Bullion Bank Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan bisnis bullion bank juga memberikan dampak terhadap kinerja keuangan perseroan. Hingga Desember 2025, total aset BSI tercatat mencapai Rp456 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 11,64 persen secara tahunan.
Selain aset, pembiayaan BSI juga meningkat sebesar 14,49 persen secara tahunan. Kualitas pembiayaan tetap terjaga yang tercermin dari cost of financing yang berada di level 0,84 persen. Sementara dana pihak ketiga tumbuh 16,20 persen menjadi Rp380 triliun.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa emas memiliki peran penting sebagai instrumen investasi yang relatif aman. Dalam kondisi ekonomi global yang dinamis, emas sering dipandang sebagai aset safe haven. Oleh karena itu pengembangan ekosistem bullion bank dinilai penting bagi perekonomian nasional.
“Emas menjadi instrumen investasi safe haven dalam kondisi apa pun. Untuk itu kami terus mendorong industri jasa keuangan, termasuk Bank Syariah Indonesia, untuk meningkatkan ekosistem bullion bank guna menjadi engine baru pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Airlangga.
Ke depan, BSI berencana terus memperkuat inovasi layanan bullion bank serta meningkatkan literasi investasi emas syariah. Perseroan juga akan memperluas kolaborasi dengan regulator dan pelaku industri untuk membangun ekosistem bank emas nasional yang lebih kuat.
Selain sebagai instrumen investasi, BSI juga mendorong pemanfaatan emas sebagai bagian dari perencanaan keuangan nasabah seperti persiapan ibadah haji, kepemilikan rumah, maupun tujuan finansial lainnya.