CIMB Finance

CIMB Finance Bidik Penyaluran Pembiayaan Syariah Baru Rp3,74 Triliun Tahun 2026

CIMB Finance Bidik Penyaluran Pembiayaan Syariah Baru Rp3,74 Triliun Tahun 2026
CIMB Finance Bidik Penyaluran Pembiayaan Syariah Baru Rp3,74 Triliun Tahun 2026

JAKARTA - PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) memprediksi pertumbuhan positif untuk segmen pembiayaan syariah pada 2026. 

Faktor inovasi produk menjadi kunci utama untuk mendukung ekspansi ini. Presiden Direktur CNAF menyatakan perusahaan menargetkan penyaluran pembiayaan baru syariah sebesar Rp3,74 triliun.

Proyeksi dan Target 2026

“Meski kondisi ekonomi dan industri saat ini cukup menantang, CNAF menargetkan penyaluran pembiayaan baru syariah sebesar Rp3,74 triliun di tahun 2026,” ujar Ristiawan. 

Pada 2025, penyaluran pembiayaan baru syariah tercatat Rp2,88 triliun. Nilai tersebut berkontribusi sekitar 31% terhadap total penyaluran pembiayaan baru CNAF yang mencapai Rp2,95 triliun.

Perusahaan menilai segmen syariah memiliki potensi yang besar, terutama dengan strategi diversifikasi produk. Peningkatan inovasi diharapkan mendorong pertumbuhan penyaluran sekaligus memperluas jangkauan pasar. Fokus CNAF bukan hanya pada otomotif, tetapi juga mencakup pembiayaan emas dan properti.

Inovasi Produk Pembiayaan Haji

CNAF baru saja meluncurkan produk pembiayaan Haji sebagai bagian dari diversifikasi portofolio. “Kami berharap produk pembiayaan Haji ini menjadi salah satu inovasi untuk menghadapi industri yang menantang di 2026,” ungkap Ristiawan. Produk ini dirancang untuk menarik minat masyarakat yang ingin memanfaatkan pembiayaan syariah secara fleksibel.

Peluncuran produk Haji juga diharapkan menjadi pembeda kompetitif di pasar multifinance. CNAF melihat peluang untuk mengedukasi masyarakat mengenai manfaat pembiayaan syariah. Strategi ini sekaligus memperkuat brand image CNAF sebagai pelopor inovasi keuangan syariah.

Tantangan Penyaluran Syariah

Ristiawan mengungkapkan tantangan utama pembiayaan syariah termasuk Haji adalah rendahnya pemahaman masyarakat terhadap produk syariah. Hal ini menyebabkan kesulitan dalam menjelaskan mekanisme pembiayaan secara transparan. Selain itu, kompleksitas akad syariah membuat proses pembiayaan cenderung lebih panjang dibandingkan konvensional.

Perusahaan berupaya mengatasi tantangan ini melalui edukasi konsumen dan pendampingan saat pengajuan. “Dari sisi pengelolaan, didukung dengan keunggulan digitalisasi, kami berharap proses dapat disederhanakan sehingga lebih mudah diakses konsumen,” jelas Ristiawan. Pendekatan ini memungkinkan CNAF tetap kompetitif sekaligus menjaga kepuasan nasabah.

Strategi Digitalisasi dan Kemudahan Proses

Digitalisasi menjadi salah satu kunci keberhasilan CNAF dalam menghadapi tantangan syariah. Proses pembiayaan yang lebih cepat dan transparan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen. Teknologi juga memudahkan monitoring dan pengelolaan portofolio pembiayaan secara efisien.

Melalui digitalisasi, CNAF berupaya menyederhanakan akad syariah agar lebih mudah dipahami masyarakat. Langkah ini diharapkan memperluas penetrasi pasar syariah. Selain itu, layanan digital memungkinkan nasabah melakukan transaksi dan pemantauan pembiayaan dari mana saja.

Diversifikasi Pasar dan Optimalisasi Pertumbuhan

Selain otomotif dan pembiayaan Haji, CNAF menjangkau segmen emas dan properti untuk memperkuat pertumbuhan portofolio. Strategi ini bertujuan menjaga kesinambungan bisnis di tengah persaingan industri multifinance. Diversifikasi produk juga membantu CNAF menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang beragam.

“Kami menekankan kualitas layanan dan edukasi konsumen sebagai pondasi utama pertumbuhan pembiayaan syariah,” kata Ristiawan. Hal ini memungkinkan CNAF mempertahankan posisi kompetitif sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pembiayaan syariah. Dengan strategi yang terintegrasi, perusahaan optimis target Rp3,74 triliun dapat tercapai.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index