Demplot PMAAS Sukabumi Diprediksi Hasilkan 10 Ton Padi

Demplot PMAAS Sukabumi Diprediksi Hasilkan 10 Ton Padi
Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq. (Foto: NET)

JAKARTA — Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa Demplot Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS) yang berada di Kota Sukabumi, Jawa Barat, sanggup menghasilkan kurang lebih 10 ton padi ketika masa panen pada September 2026 mendatang.

Beliau menilai sistem pertanian modern tersebut mempunyai potensi besar untuk dijadikan contoh dalam mendongkrak produktivitas padi karena mengaplikasikan teknik bercocok tanam dengan jumlah populasi tanaman yang lebih padat apabila dikomparasikan dengan pola konvensional.

“PMAAS ini memiliki kelebihan jumlah pohon yang ditanam relatif lebih banyak daripada sistem biasa. Untuk satu hektare bahkan sampai 80 kilogram (kg) benih yang ditabur. Ini artinya suatu metodologi yang terus ditingkatkan,” ucap Hanif melalui keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Menurut pandangan beliau, implementasi teknologi itu harus senantiasa ditinjau ulang merujuk pada capaian hasil produksi yang didapat sebelum nantinya diperluas pemanfaatannya ke cakupan yang lebih masif.

Lebih lanjut, demplot PMAAS tersebut diarahkan agar bisa menjadi acuan dalam bidang pertanian manakala terbukti sukses mencatatkan tingkat keberhasilan serta tingkat produktivitas yang paling optimal.

“Demplot-demplot ini berdasarkan penjelasan dari BSIP akan terus dikembangkan dan menjadi model utama apabila tingkat keberhasilannya semakin tinggi,” tuturnya.

Hanif memaparkan bahwa pemanfaatan inovasi teknologi di sektor pertanian merupakan esensi dari gerakan bersama antara pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta para petani guna mengokohkan pilar swasembada padi dan komoditas beras.

Di samping itu, beliau turut memberikan instruksi kepada pihak Pemerintah Kota Sukabumi agar mengalkulasi besaran kebutuhan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) secara cermat dengan bertumpu pada jumlah total warga, kapasitas hasil panen petani, serta tingkat konsumsi riil di wilayah setempat.

“Cadangan Pangan Pemerintah harus dihitung dengan detail, seberapa besar jumlah penduduk, seberapa besar petani menghasilkan padi, sisanya harus disiapkan dalam bentuk Cadangan Pangan Pemerintah,” tegasnya.

Hanif menambahkan bahwa penguatan kedaulatan pangan tidak sekadar dipusatkan pada komoditas padi semata, melainkan turut merambah ke berbagai varietas komoditas pangan penunjang lainnya berkat sinergi yang terjalin antara pemerintah pusat, daerah, para petani, serta kalangan dunia usaha.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana mengutarakan bahwa pemanfaatan teknologi modern pada sarana demplot PMAAS terbukti mampu mempercepat efisiensi durasi penebaran benih di lahan pertanian.

Berdasarkan keterangannya, benih seberat 85 kg yang diperuntukkan bagi lahan seluas satu hektare kini sanggup ditebar hanya dalam kurun waktu sekitar setengah hari saja berkat bantuan perangkat teknologi pertanian mutakhir.

“Kota Sukabumi walaupun tidak luas, tetapi inovasi kami tidak terbatas. Melalui PMAAS, penebaran benih menggunakan teknologi sehingga satu hektare dengan 85 kilogram benih bisa diselesaikan hanya dalam waktu setengah hari,” ungkap Bobby.

Ia juga menerangkan bahwa fasilitas demplot tersebut turut dilengkapi dengan beragam perangkat teknologi modern guna meredam potensi serangan hama pengganggu serta kawanan burung ketika fase menjelang panen tiba.

Sebagai catatan, angka produktivitas padi di wilayah Kota Sukabumi saat ini berada di kisaran 6,7 ton per hektare, di mana capaian tersebut tercatat lebih unggul jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang berada pada angka sekitar 5,5 ton per hektare.

Bobby menaruh harapan besar agar penerapan model PMAAS ini konsisten mendongkrak hasil sektor pertanian sekaligus mempertebal stok cadangan pangan lokal, kendati Kota Sukabumi hanya mempunyai luas wilayah teritorial kurang lebih 48 kilometer persegi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index