JAKARTA - Penguatan industri perkapalan nasional kini ditempatkan sebagai agenda strategis untuk menopang sistem logistik Indonesia.
Pemerintah memandang sektor ini memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran distribusi barang antardaerah. Melalui kebijakan terpadu, industri kapal diarahkan menjadi penopang utama konektivitas nasional.
Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem industri perkapalan nasional guna mendorong transformasi sistem logistik Indonesia.
Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus memperkuat struktur industri nasional. Fokus pengembangan diarahkan pada penguatan rantai pasok dan kapasitas produksi dalam negeri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa penguatan industri kapal dinilai strategis bagi perekonomian nasional. Menurutnya, distribusi barang antarwilayah sangat bergantung pada ketersediaan armada laut yang andal. Selain itu, sektor ini juga berperan penting dalam menopang ketahanan pangan nasional.
Peran Strategis Industri Perkapalan Nasional
Penguatan industri galangan kapal tidak lagi dipandang sebagai pilihan kebijakan semata. Sektor ini memiliki keterkaitan luas dengan berbagai subsektor ekonomi nasional. Oleh karena itu, pengembangannya dinilai sebagai kebutuhan strategis jangka panjang.
“Pada tahun 2025, pertumbuhan industri pengolahan mencapai 5,30 persen atau melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen. Momentum ini mengulang capaian setelah lebih dari satu dekade, yang menunjukkan sektor industri kembali menjadi penarik utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Menperin.
Capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor industri kembali berperan sebagai motor ekonomi. Industri perkapalan menjadi bagian penting dalam rantai nilai tersebut. Dengan penguatan yang konsisten, kontribusinya diharapkan semakin signifikan.
Dampak Berganda Galangan Kapal
Industri galangan kapal memiliki efek berganda yang luas terhadap perekonomian. Kegiatan produksinya melibatkan banyak komponen dalam rantai pasok industri nasional. Mulai dari bahan baku hingga jasa logistik, seluruhnya saling terhubung.
“Industri galangan kapal memiliki dampak berganda yang luas karena melibatkan berbagai komponen dalam rantai pasok industri seperti bahan baku, komponen, teknologi, pendanaan, sumberdaya manusia, teknologi, infrastruktur hingga jasa logistik. Karena itu, pengembangannya menjadi kebutuhan strategis bagi penguatan struktur industri nasional,” katanya.
Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat angkutan laut menjadi tulang punggung distribusi barang. Aktivitas logistik antarwilayah membutuhkan armada kapal yang memadai. Di sinilah peran industri galangan kapal dalam negeri menjadi sangat krusial.
Kapasitas Produksi dan Tantangan Industri
Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 342 galangan kapal yang tersebar di 29 provinsi. Industri ini didukung puluhan ribu tenaga kerja dengan fasilitas produksi yang beragam. Kemampuannya mencakup pembangunan berbagai jenis kapal hingga kapasitas besar.
Penguatan ekosistem industri galangan kapal mencakup banyak aspek strategis. Integrasi rantai pasok bahan baku dan komponen menjadi perhatian utama. Selain itu, kesiapan teknologi, regulasi, serta kompetensi sumber daya manusia juga menjadi faktor penentu.
Meski memiliki potensi besar, industri perkapalan nasional masih menghadapi tantangan struktural. Permintaan pembangunan kapal baru dinilai belum berkelanjutan. Ketergantungan pada impor bahan baku dan komponen juga masih cukup tinggi.
Penguatan TKDN dan Utilisasi Galangan
Pada aspek Tingkat Komponen Dalam Negeri, ketergantungan impor menjadi tantangan utama industri. Kebijakan TKDN diharapkan mampu memperkuat industri komponen kapal nasional. Implementasinya diarahkan pada pengadaan kapal oleh pemerintah dan BUMN.
“Pada aspek Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), tingginya ketergantungan terhadap impor menjadi tantangan utama. Implementasi kebijakan TKDN dalam pengadaan kapal pemerintah dan BUMN sesuai Perpres 46 Tahun 2025 dan Permenperin 35 Tahun 2025 diharapkan dapat menstimulasi tumbuhnya industri komponen kapal nasional,” ujarnya.
Selain itu, rendahnya utilisasi galangan kapal juga menjadi perhatian serius. Kapasitas nasional dinilai cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan. Namun, minimnya order pembangunan kapal baru membuat utilisasi belum optimal.
“Kapasitas galangan kapal nasional sebenarnya cukup memadai, namun utilisasi masih rendah karena terbatasnya permintaan pembangunan kapal baru. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah harus mampu menciptakan demand yang berkelanjutan,” jelasnya.
Langkah Strategis dan Prospek Ke Depan
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, pemerintah menyiapkan langkah-langkah strategis. Penyederhanaan perizinan menjadi salah satu fokus utama. Selain itu, dukungan pembiayaan berbunga rendah juga disiapkan untuk industri.
Pemerintah juga memperluas Penugasan Khusus Ekspor sebagai instrumen substitusi impor. Optimalisasi fasilitas fiskal dilakukan untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan industri galangan kapal nasional.
Penetapan pelabuhan entry point bagi produk impor tertentu turut diharapkan meningkatkan permintaan angkutan laut. Program prioritas pembangunan 975 unit kapal menjadi peluang besar bagi industri dalam negeri. Kapasitas produksi nasional yang mencapai sekitar 1.242 unit kapal per tahun dinilai memadai.
“Saya meyakini bahwa industri maritim nasional memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung sistem logistik dan konektivitas Indonesia. Dengan sinergi kebijakan dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, ekosistem industri perkapalan nasional dapat tumbuh lebih kuat dan berdaya saing,” ucapnya.
Kemenperin perkuat ekosistem industri kapal untuk pacu logistik sebagai bagian dari visi besar pembangunan industri nasional. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat konektivitas dan daya saing Indonesia. Dengan fondasi yang kuat, industri perkapalan diharapkan menjadi motor pertumbuhan berkelanjutan.