IBC Optimis Proyek Baterai Nasional Tetap Tahan Dampak Perubahan Insentif

Selasa, 03 Februari 2026 | 15:54:39 WIB
IBC Optimis Proyek Baterai Nasional Tetap Tahan Dampak Perubahan Insentif

JAKARTA - Indonesia Battery Corporation (IBC) menyatakan kebijakan penghentian insentif mobil listrik berbasis baterai tidak akan signifikan memengaruhi proyek ekosistem baterai perseroan. 

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menegaskan bahwa perusahaan tetap adaptif terhadap seluruh kebijakan pemerintah. “Jadi dengan dicabut itu [insentif], tidak berarti kemudian hilang sama sekali,” ujarnya.

Aditya menambahkan, target pasar baterai IBC bukan hanya domestik, melainkan juga ekspor global sehingga perusahaan dapat menyesuaikan diri dengan berbagai skema kebijakan baru. 

Menurutnya, pemerintah tengah merumuskan kebijakan yang akan tetap mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik. Fleksibilitas ini diyakini membuat proyek baterai IBC tetap berkelanjutan meski insentif saat ini tidak diperpanjang.

IBC juga optimis bahwa perkembangan pasar mobil listrik dalam negeri akan tetap positif. Perusahaan memandang adopsi EV terus meningkat dengan dukungan produksi lokal dari pabrikan CBU dan CKD. Hal ini membuat prospek bisnis baterai tetap stabil dalam jangka menengah hingga panjang.

Alternatif Pemerintah untuk Adopsi EV

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi di Kemenko Maritim dan Investasi, Rachmat Kaimuddin, menekankan insentif mobil listrik bersifat temporer. Menurutnya, setelah program percepatan EV berhasil, insentif tidak lagi diperlukan secara penuh. “Kan ini sudah berjalan tiga tahun ya, sudah cukup. Tadi saya lihat pasarnya itu sudah bagus, harganya juga sudah mulai turun,” kata Rachmat.

Namun, pemerintah masih memberikan preferensi lain berupa bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB) 0% dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) 0%.

Bedanya, PPN DTP kini kembali ke 12% dibanding sebelumnya 0%. Hal ini tetap menjaga daya tarik kendaraan listrik bagi konsumen sambil menyesuaikan dengan tekanan fiskal negara.

Rachmat juga menjelaskan bahwa sejumlah pabrikan mobil impor kini memproduksi kendaraan listrik dalam negeri. Skema CKD dan produksi lokal menggantikan CBU sehingga biaya tambahan bea masuk tidak diperlukan. Dengan demikian, insentif dalam bentuk preferensi fiskal alternatif tetap signifikan untuk mendorong adopsi EV.

Kesiapan IBC Menghadapi Kebijakan Baru

Aditya Farhan Arif menekankan bahwa IBC akan tetap fokus pada proyek baterai meski insentif mobil listrik tidak diperpanjang. Perusahaan menilai bahwa fleksibilitas pasar domestik dan global menjadi kunci strategi. 

“Kalau pengaruh terhadap IBC, kan IBC kita targetnya tidak hanya domestic market ya. Jadi ya kita akan fleksibel lah dengan apapun nanti kebijakannya,” ujarnya.

Dia menambahkan, proyek baterai tidak hanya mengandalkan pasar lokal tetapi juga memanfaatkan peluang ekspor. Hal ini membuat IBC mampu menyeimbangkan portofolio pendapatan. Perusahaan optimis bahwa keberlanjutan proyek tetap terjaga meski regulasi fiskal mengalami perubahan.

IBC juga menyiapkan strategi adaptasi untuk mendukung produksi dan distribusi baterai. Termasuk meningkatkan efisiensi proses dan memperluas jaringan kerja sama. Strategi ini diyakini mampu meminimalkan dampak perubahan kebijakan terhadap proyek-proyek yang tengah berjalan.

Peran Kemenperin dan Kemenkeu dalam Insentif

Kementerian Perindustrian masih menunggu surat balasan dari Kementerian Keuangan terkait insentif otomotif. Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa perhitungan biaya dan manfaat memerlukan waktu dari pihak fiskal. “Kita serahkan itu kepada Kemenkeu. Ya kan teman-teman lihat sendiri kan Kemenkeu beban kerjanya juga cukup tinggi saat ini,” jelas Febri.

Febri menegaskan, pembahasan insentif otomotif tetap berjalan dan diharapkan segera rampung. Kemenperin tetap mengedepankan koordinasi lintas kementerian agar kebijakan mendukung percepatan adopsi EV. Dengan demikian, insentif yang ada maupun alternatif tetap memberikan sinyal positif bagi produsen dan konsumen.

Selain itu, pemerintah menyiapkan skema insentif lain agar industri tetap kompetitif. Preferensi pajak dan dukungan regulasi menjadi kunci transisi dari insentif penuh menuju skema fiskal alternatif. Hal ini bertujuan memastikan pasar kendaraan listrik tetap berkembang tanpa mengorbankan kondisi keuangan negara.

Dampak dan Strategi Proyek Baterai ke Depan

IBC menilai penghentian insentif tidak mengubah fokus pengembangan ekosistem baterai. Perusahaan akan tetap menjalankan proyek sesuai rencana dengan menyesuaikan strategi pemasaran dan distribusi. Aditya menekankan, fleksibilitas pasar global menjadi keunggulan kompetitif perusahaan.

IBC juga mempersiapkan inovasi produk dan efisiensi manufaktur agar tetap kompetitif. Hal ini mencakup peningkatan kapasitas produksi, pengembangan baterai berbasis nikel, dan dukungan teknologi terbaru. Strategi ini memastikan proyek baterai tetap menjanjikan meski kebijakan fiskal berubah.

Di sisi lain, pemerintah tetap mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik dengan skema alternatif. Preferensi pajak tetap ada, meski bentuknya berbeda dari sebelumnya. Sinergi antara kebijakan pemerintah dan strategi perusahaan diyakini menjaga stabilitas dan keberlanjutan ekosistem baterai di Indonesia.

Dengan pendekatan ini, IBC optimis proyek baterai tidak terhambat meski insentif mobil listrik dihentikan. Perusahaan menekankan adaptasi, ekspor, dan efisiensi sebagai kunci keberlanjutan. Sinergi kebijakan pemerintah dan strategi perusahaan memastikan masa depan ekosistem baterai tetap menjanjikan.

Terkini