Harga Minyak Dunia Naik Seiring Meningkatnya Ketegangan Global Antarnegara

Jumat, 30 Januari 2026 | 09:33:06 WIB
Harga Minyak Dunia Naik Seiring Meningkatnya Ketegangan Global Antarnegara

JAKARTA - Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan pada perdagangan terbaru. 

Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut langsung memengaruhi sentimen pelaku pasar energi global.

Pasar merespons cepat pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mempertimbangkan opsi serangan militer. Iran sebagai salah satu anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak memiliki peran penting dalam pasokan global. Kekhawatiran akan gangguan distribusi membuat harga minyak bergerak naik tajam.

Lonjakan harga mencerminkan sensitivitas pasar terhadap isu keamanan di Timur Tengah. Kawasan tersebut selama ini menjadi pusat produksi dan distribusi minyak mentah dunia. Setiap potensi konflik dinilai berisiko mengganggu keseimbangan pasokan.

Harga Minyak Naik Lebih Dari Tiga Persen

Harga minyak mentah Amerika Serikat tercatat mengalami kenaikan lebih dari tiga persen. Minyak mentah tersebut ditutup di level USD 65,42 per barel setelah naik USD 2,21. Penguatan ini menunjukkan reaksi pasar yang cukup kuat terhadap perkembangan geopolitik.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent juga mencatatkan kenaikan signifikan. Minyak acuan global tersebut menguat USD 2,31 menjadi USD 70,71 per barel. Pergerakan serentak kedua acuan menegaskan kekhawatiran pasar bersifat global.

Kenaikan harga ini menjadi yang terbesar dalam beberapa waktu terakhir. Pelaku pasar menilai risiko pasokan lebih dominan dibanding faktor permintaan. Kondisi tersebut mendorong aksi beli di pasar minyak.

Kekhawatiran Gangguan Pasokan Timur Tengah

Rencana serangan militer terhadap Iran memicu kekhawatiran serius terkait pasokan minyak mentah. Iran merupakan salah satu produsen utama minyak di kawasan Timur Tengah. Gangguan sekecil apa pun berpotensi berdampak besar pada pasar global.

Sejumlah pihak menyebut Presiden Trump tengah mempertimbangkan serangan terarah. Targetnya disebut mencakup pasukan keamanan dan pimpinan Iran. Langkah tersebut diklaim bertujuan memicu gelombang protes anti-pemerintah.

Dua sumber dari Amerika Serikat menyatakan bahwa tekanan ini diarahkan pada perubahan rezim. Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian di kawasan. Pasar minyak pun bereaksi dengan menaikkan harga sebagai bentuk antisipasi risiko.

Eskalasi Militer dan Respons Iran

Pemerintah Republik Islam Iran sebelumnya telah meluncurkan operasi pengetatan keamanan. Langkah ini dilakukan untuk meredam aksi protes yang terjadi di dalam negeri. Operasi tersebut dilaporkan menyebabkan ribuan korban jiwa.

Situasi ini memperburuk hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Ketegangan yang meningkat dinilai dapat memicu eskalasi konflik terbuka. Pelaku pasar pun memantau setiap perkembangan dengan sangat cermat.

Stabilitas kawasan Timur Tengah menjadi sorotan utama. Setiap sinyal eskalasi langsung tercermin pada pergerakan harga minyak. Kondisi ini menunjukkan betapa eratnya hubungan geopolitik dan pasar energi.

Pergerakan Militer Amerika Serikat

Amerika Serikat telah mengerahkan kelompok tempur kapal induk Abraham Lincoln ke Timur Tengah. Langkah ini mempertegas keseriusan Washington dalam menghadapi Iran. Keberadaan kapal induk tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik.

Presiden Trump juga memperingatkan Iran terkait kesepakatan program nuklir. Ia menegaskan bahwa waktu untuk mencapai kesepakatan semakin sempit. Pernyataan tersebut kembali memicu ketegangan diplomatik.

Trump bahkan mengancam serangan yang lebih besar dari operasi militer sebelumnya. “Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan biarkan itu terjadi lagi,” tulisnya. Pernyataan ini memperkuat sentimen risiko di pasar minyak global.

Terkini