JAKARTA - Masalah gizi pada ibu hamil dan remaja masih menjadi perhatian penting di Indonesia.
Tantangan ini mencakup pemenuhan gizi makro dan mikro yang belum merata. Dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga memengaruhi kualitas generasi mendatang.
Kondisi gizi yang kurang optimal dapat meningkatkan risiko kesehatan ibu dan anak. Pada saat yang sama, remaja juga menghadapi persoalan gizi yang semakin kompleks. Situasi ini menunjukkan perlunya pendekatan menyeluruh dalam penanganan gizi.
Upaya perbaikan gizi tidak dapat dilakukan secara parsial. Pemantauan dan intervensi perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, risiko masalah gizi dapat ditekan sejak dini.
Kondisi Gizi Ibu Hamil
Data menunjukkan persoalan gizi pada ibu hamil masih cukup tinggi. Prevalensi Kurang Energi Kronis pada ibu hamil tercatat sebesar 16,9 persen. Angka ini mencerminkan masih adanya kekurangan asupan energi jangka panjang.
Selain itu, prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai 27,7 persen. Meski menurun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, angkanya masih tergolong signifikan. Artinya, satu dari empat ibu hamil mengalami anemia saat kehamilan.
Anemia pada kehamilan ditandai dengan kadar hemoglobin di bawah batas normal. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin. Oleh karena itu, penanganan anemia menjadi prioritas dalam layanan kesehatan ibu.
Gizi Remaja dengan Tantangan Ganda
Masalah gizi tidak hanya terjadi pada ibu hamil, tetapi juga pada kelompok remaja. Pada anak usia 5 hingga 12 tahun, prevalensi gizi kurang masih mencapai 11 persen. Di sisi lain, kelebihan berat badan juga ditemukan pada kelompok usia yang sama.
Prevalensi overweight dan obesitas pada kelompok usia tersebut tercatat sebesar 19,7 persen. Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan gizi ganda dalam satu kelompok usia. Masalah kekurangan dan kelebihan gizi terjadi secara bersamaan.
Situasi serupa juga ditemukan pada kelompok usia remaja lainnya. Dinamika gizi pada remaja menunjukkan pola yang beragam. Hal ini memerlukan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik usia.
Masalah Gizi Mikro pada Remaja
Dari sisi gizi mikro, anemia masih menjadi persoalan pada remaja. Prevalensi anemia pada usia 5 hingga 14 tahun tercatat sebesar 16,3 persen. Sementara itu, pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun angkanya mencapai 15,5 persen.
Meski mengalami perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka tersebut masih memerlukan perhatian serius. Anemia pada remaja dapat memengaruhi konsentrasi dan produktivitas. Dampaknya juga berpotensi berlanjut hingga usia dewasa.
Penanganan anemia pada remaja menjadi penting dalam siklus kehidupan. Intervensi sejak usia muda dapat mencegah risiko yang lebih besar. Langkah ini juga berkontribusi pada kesehatan ibu di masa depan.
Pentingnya Pemantauan Sejak Dini
Pemantauan menjadi kunci utama dalam penanganan masalah gizi. Ibu hamil dan balita perlu dipantau secara rutin sejak awal. Tanpa pemantauan, risiko masalah gizi sulit terdeteksi.
Deteksi dini sangat menentukan ketepatan intervensi. Dengan pemantauan yang baik, risiko dapat dicegah sebelum berkembang. Hal ini membantu sasaran terhindar dari masalah gizi yang lebih berat.
Pemantauan kehamilan dan pertumbuhan balita perlu dilakukan secara berkala. Langkah ini memungkinkan tenaga kesehatan bertindak lebih cepat. Intervensi tepat waktu menjadi faktor penentu keberhasilan.
Upaya Penanganan dan Pencegahan
Selain pemantauan, berbagai faktor lain turut memengaruhi masalah gizi. Promosi produk pengganti ASI dinilai dapat menghambat pemberian ASI eksklusif. Kesadaran imunisasi yang rendah juga menjadi tantangan tersendiri.
Faktor ekonomi turut memengaruhi daya beli pangan bergizi. Keterbatasan sumber daya memperumit penanganan masalah gizi. Kondisi ini menjadikan persoalan gizi bersifat multidimensional.
Untuk mengatasi hal tersebut, upaya dilakukan sepanjang siklus hidup. Intervensi dimulai sejak remaja putri melalui pemberian Tablet Tambah Darah dan edukasi gizi seimbang. Langkah ini dilanjutkan dengan pelayanan kesehatan ibu hamil.
Pelayanan ibu hamil mencakup pemeriksaan kehamilan minimal enam kali. Pemberian Tablet Tambah Darah atau Multiple Micronutrient Supplement juga dilakukan. Ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis memperoleh makanan tambahan.
Upaya lainnya meliputi skrining bayi baru lahir dan pemantauan balita. Balita dengan masalah gizi mendapatkan makanan tambahan. Penanganan gizi buruk dan stunting juga terus dilakukan.
Untuk mencegah obesitas, edukasi gizi seimbang terus didorong. Aktivitas fisik rutin dan pembatasan gula, garam, serta lemak menjadi fokus. Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan gizi masyarakat.
Di bidang edukasi pangan, pencantuman nilai gizi pada kemasan turut didorong. Logo pilihan lebih sehat membantu masyarakat menentukan konsumsi. Pendekatan multisektoral dinilai penting dalam mengatasi masalah gizi.