Produksi Jagung Pipilan hingga September Diperkirakan Menyusut

Senin, 03 Agustus 2026 | 21:27:02 WIB
Produksi Jagung Pipilan Januari-September 2026 Diproyeksi Menyusut [FOTO: NET].

JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan hasil panen jagung pipilan kering sepanjang Januari–September 2026 berkurang sejalan dengan penurunan luas lahan panen apabila disandingkan dengan kurun waktu yang serupa pada tahun sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengemukakan total produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% (JPK-KA14%) secara kumulatif pada Januari–September 2026 diestimasikan menyentuh angka 12,67 juta ton.

“Produksi tersebut berkurang 0,14 juta ton atau turun 1,07% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025,” ujarnya dalam Rilis Berita Resmi Statistik (BRS), Senin (3/8/2026).

Penyusutan serupa jugadugaan kuat terjadi pada rentang Juli–September 2026. Produksi dalam kurun waktu tersebut dipetakan mencapai 3,98 juta ton atau merosot 280.000 ton (6,48%) apabila dikomparasikan dengan periode serupa tahun lalu. Sementara itu, hasil panen jagung pipilan kering pada Juni 2026 diestimasikan menyentuh 1,50 juta ton, lebih minim jika dibandingkan realisasi Juni 2025 yang berada di angka 1,55 juta ton.

BPS mencatat 10 wilayah provinsi yang diantisipasi menjadi sentra penghasil JPK-KA14% terbanyak pada Januari–September 2026, yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Gorontalo, Sumatera Barat, serta Sumatera Selatan.

Ateng memaparkan bahwa kemerosotan jumlah produksi ini linear dengan berkurangnya bentangan luas panen jagung pipilan. Berdasarkan temuan Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Juni 2026, luas panen pada bulan tersebut dihitung mencapai 250.000 hektare, lebih rendah ketimbang Juni 2025 yang menorehkan angka 260.000 hektare.

Kapasitas potensi luas panen pada Juli–September 2026 dihitung mencapai 670.000 hektare atau mengalami koreksi turun 4,39% jika disandingkan dengan periode serupa pada tahun terdahulu.

Lewat dinamika tersebut, keseluruhan luas panen jagung pipilan sepanjang Januari–September 2026 digariskan mencapai 2,17 juta hektare atau menyusut 30.000 hektare (1,20%) dibandingkan kurun waktu yang sama pada 2025.

Ateng menegaskan angka-angka itu masih sebatas potensi sehingga sangat mungkin bergeser mengikuti dinamika kondisi tanaman serta hasil observasi di lapangan, termasuk dipicu oleh faktor organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, cuaca kering, ataupun penentuan waktu panen oleh para petani.

“Potensi luas panen ini sudah termasuk tanaman jagung yang akan dipanen, bukan untuk pipilan. Misalnya, yang dipanen muda atau dipanen untuk hijauan pakan ternak,” tutupnya.

Terkini