Kemarau Diperkuat El Nino, Tujuh Wilayah NTB Awas Kekeringan

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 14:56:32 WIB
BMKG: Tujuh Daerah di NTB Berstatus Awas Kekeringan [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa tujuh dari sepuluh kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Barat (NTB) kini berstatus awas terhadap kekeringan meteorologis akibat musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino dengan indeks mencapai +2,26 derajat Celcius.

"Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo di Kabupaten Bima tidak mencatat adanya hujan selama 74 hari berturut-turut. Kedua daerah itu masuk kategori kekeringan ekstrem karena sudah lebih dari dua bulan tanpa hujan," kata Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini di Mataram, Sabtu.

Suci merinci ketujuh wilayah yang berstatus awas kekeringan mencakup Kabupaten Lombok Timur, Lombok Utara, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, Bima, hingga Kota Bima.

Hadirnya status darurat tersebut mendera total 17 kecamatan yang tersebar di ketujuh kabupaten dan kota di wilayah Nusa Tenggara Barat tersebut.

Menurut penjelasannya, dampak penguatan El Nino di tengah musim kemarau tahun ini memicu durasi hari tanpa hujan yang semakin panjang di berbagai titik.

Kondisi peningkatan intensitas El Nino ini diprediksi bakal berlangsung dalam beberapa bulan mendatang, sementara fenomena Dipol Samudra Hindia atau IOD yang kini berada di posisi netral diproyeksikan bergeser ke fase positif mulai September hingga Desember 2026.

Memasuki akhir Juli 2026, tingkat curah hujan di NTB secara umum berada pada kisaran rendah antara 0 hingga 10 milimeter per dasarian, di mana curah hujan paling tinggi hanya terpantau di Pos Hujan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, senilai 19 milimeter per dasarian.

BMKG memproyeksikan peluang turunnya hujan pada dasarian I Agustus 2026 atau rentang waktu 1 sampai 10 Agustus masih sangat rendah, yakni di bawah 10 persen di seluruh kawasan Nusa Tenggara Barat.

Suci turut mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan, lahan, maupun area permukiman dengan menghindari pembakaran sampah sembarangan serta tidak meninggalkan titik api tanpa pemantauan.

"Sehubungan hari tanpa hujan yang kian panjang dan daerah yang masuk status awas kekeringan meteorologi juga semakin banyak, maka kami harap masyarakat dapat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih," pungkas dia.

Terkini