Tekanan Mereda, Inflasi Juli 2026 Bertahan di Level Tinggi

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:48:01 WIB
Kepala Ekonom BSI Banjaran Surya Indrastomo. (Foto: NET)

JAKARTA - Laju inflasi pada Juli 2026 diproyeksikan masih bertahan pada kisaran yang tergolong tinggi, kendati tekanan kenaikan harga secara bulanan diantisipasi mulai melandai apabila dibandingkan periode sebelumnya. 

Kepala Ekonom BSI Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan inflasi pada Juli 2026 berada pada rentang 3,20% sampai dengan 3,40% secara tahunan (year on year/yoy).

Besaran tersebut memang masih berada dalam level yang tinggi, namun memperlihatkan tekanan inflasi bulanan yang jauh lebih terkontrol apabila dikomparasikan dengan Juni 2026 yang menyentuh angka 3,34% yoy. 

Banjaran menerangkan, tekanan inflasi sepanjang Juli diestimasikan bergeser dari pengaruh langsung penyesuaian harga yang ditetapkan pemerintah (administered prices) menuju perpaduan kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food), inflasi inti, serta dampak lanjutan dari lonjakan biaya energi.

Menurutnya, eskalasi administered prices yang menyentuh 1,41% MtM pada Juni utamanya didorong oleh kenaikan harga bensin serta tarif angkutan udara seusai penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan avtur. 

“Dampak langsung dari penyesuaian tersebut diperkirakan mulai mereda pada Juli 2026,” tutur Banjaran, Jumat (31/7/2026).

Walau demikian, menurut pandangannya peningkatan biaya logistik serta transportasi masih menyimpan potensi untuk diteruskan secara bertahap terhadap harga berbagai macam produk barang maupun jasa. 

Di samping itu, tekanan beban finansial pada tingkat produsen pun terpantau masih cukup masif, yang tercermin via kenaikan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) nasional sebesar 6,51% yoy pada Juni 2026.

Bergeser ke sektor pangan, Banjaran menilai bahwa ancaman inflasi masih mengharuskan adanya kewaspadaan ekstra. Faktor pemicunya adalah catatan inflasi dari kelompok volatile food pada Juni yang masih bertengger di angka tinggi yakni 5,58% yoy.

Ia memaparkan bahwa komoditas pangan seperti bawang putih, bawang merah, serta beras secara konsisten masih mendominasi kontributor utama inflasi bahan pangan. 

Dinamika tersebut sangat dipengaruhi oleh rampungnya masa panen raya, merosotnya angka produksi di sejumlah wilayah sentra, serta membengkaknya biaya distribusi logistik.

Kendati demikian, kolaborasi pengendalian inflasi lewat Tim Pengendalian Inflasi Daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP-TPID) serta optimalisasi program stabilisasi pangan diyakini sanggup meredam eskalasi harga agar tidak melonjak semakin tajam. 

Di sisi lain, meninjau dari sektor permintaan, Banjaran memandang bahwa tingkat konsumsi masyarakat bakal tetap tersokong oleh momentum libur sekolah yang berlanjut hingga fase awal Juli serta pembukaan tahun ajaran baru.

Situasi tersebut diantisipasi mendongkrak permintaan pasar terhadap sektor rekreasi, transportasi, perlengkapan sekolah, pakaian, sampai dengan layanan jasa pendidikan. Dengan demikian, akumulasi tekanan inflasi pada Juli diestimasikan bersumber dari kombinasi cost-push inflation yang dipicu lonjakan biaya distribusi, energi, dan imported inflation, serta demand-pull inflation yang digerakkan oleh konsumsi musiman.

"Inflasi diperkirakan tetap tinggi, tetapi lajunya lebih terkendali dibandingkan Juni dan masih berada di sekitar sasaran Bank Indonesia," ujar Banjaran.

Terkini