Penguatan Industri Komponen Jadi Kunci Majukan Sektor Otomotif RI

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:04:01 WIB
CORE: Industri Otomotif RI Perlu Penguatan Sektor Komponen [FOTO: NET].

JAKARTA - Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpandangan bahwa sektor industri otomotif tanah air harus diperkokoh lewat pengembagan industri komponen supaya sanggup naik tingkat menjadi basis sentra produksi, alih-alih sekadar berfungsi sebagai wilayah tempat perakitan unit kendaraan saja.

Yusuf, sewaktu dihubungi dari Jakarta pada hari Jumat, mengemukakan bahwa tren peningkatan volume ekspor kendaraan dalam kondisi utuh memang memperlihatkan tren kemajuan yang positif.

Kendati demikian, menurut pandangannya, fondasi basis produksi yang tangguh tidak semata-mata diukur dari tingginya angka kuantitas perakitan, melainkan juga ditentukan oleh kedalaman struktur perindustrian beserta rantai pasoknya, yang mencakup pula industri komponen pendukung.

"Memang ekspor kendaraan utuh terus meningkat, tetapi basis produksi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh volume perakitan," kata Yusuf.

Walau demikian, ia menilai bahwa posisi Indonesia masih tertinggal jika dikomparasikan dengan negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam dalam hal kapasitas sebagai basis produksi otomotif regional.

Menurut analisanya, pihak Thailand telah sukses merintis jejaring ekosistem pemasok komponen dari level lapis kedua hingga ketiga selama kurun waktu puluhan tahun. Di sisi lain, Vietnam terbukti cakap dalam menggaet arus penanaman modal asing berkat kecepatan proses perizinan serta integrasi yang kuat bersama rantai pasok industri elektronik global.

Pada sisi yang berbeda, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa potensi pasar domestik yang luas serta ketersediaan cadangan komoditas mineral yang melimpah.

Namun, Yusuf menilai bahwa pelbagai keunggulan kompetitif tersebut masih bersifat komparatif belaka dan belum memadai untuk mendongkrak Indonesia sebagai basis produksi otomotif yang berdaya saing tinggi.

Ia menyebutkan bahwasanya pihak pemerintah wajib memperkuat ekosistem sektor perindustrian dengan cara menekan beban biaya produksi lewat kepastian tarif harga energi, mengoptimalkan tingkat efisiensi logistik, menyalurkan insentif fiskal yang berorientasi pada capaian ekspor serta pendalaman struktur industri, sekaligus memperlebar akses pembiayaan bagi para pengusaha pemasok komponen skala menengah.

"Tanpa penguatan industri komponen, yang berkembang hanya aktivitas perakitan," ujarnya.

Berdasarkan pandangan Yusuf, salah satu perangkat instrumen strategis yang bisa dioptimalkan untuk memperkuat basis industri komponen adalah penerapan kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).

Kendati demikian, aturan kebijakan tersebut sudah sepatutnya difungsikan sebagai sarana untuk memperdalam struktur industri secara riil, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif semata.

"Selama ini banyak perusahaan lebih fokus mengejar sertifikat daripada meningkatkan kemampuan teknologi," katanya.

Aspek muatan kandungan lokal, menurutnya, tidak boleh berhenti pada penyediaan komponen suku cadang sederhana seperti ban atau jok kursi saja, melainkan harus merambah maju ke ranah komponen berteknologi canggih, contohnya sistem penggerak mesin, perangkat elektronik kendaraan, hingga teknologi perangkat lunak (software).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengutarakan bahwa Indonesia sedang berada dalam fase transisi besar dari yang mulanya sekadar diposisikan sebagai pasar sasaran otomotif menuju status basis produksi kendaraan mandiri.

Sewaktu memberikan sambutan pembukaan pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang, Banten, pada hari Kamis (30/7), Agus menyampaikan bahwa pencapaian transformasi tersebut tampak nyata dari tren penguatan kinerja sektor otomotif nasional.

Sepanjang paruh pertama semester I tahun 2026, total volume produksi kendaraan bermotor berhasil mencapai angka 615 ribu unit atau mencatatkan pertumbuhan sebesar 11,3 persen apabila dibandingkan dengan kurun waktu yang sama pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, angka pencapaian volume penjualan secara wholesales mengalami peningkatan sebanyak 15,9 persen hingga menyentuh angka 436 ribu unit.

Pada sektor kinerja pengapalan luar negeri, volume ekspor kendaraan utuh (completely built-up/CBU) menunjukan kenaikan sebesar 7,7 persen, pengiriman ekspor kendaraan terurai (completely knocked down/CKD) melonjak 38 persen, sedangkan ekspor komponen suku cadang melesat naik hingga 46 persen. Di sisi lain, volume impor produk kendaraan utuh justru merosot turun sedalam 49 persen.

Terkini