Lapor Prabowo, KAI Sebut Revitalisasi Stasiun Tawang Atasi Rob

Kamis, 30 Juli 2026 | 20:29:32 WIB
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin. (Foto: NET)

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto meresmikan revitalisasi tahap pertama Stasiun Semarang Tawang di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026). 

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin memaparkan upaya perseroan mengembalikan bangunan cagar budaya tersebut ke bentuk aslinya sekaligus mengatasi persoalan banjir rob yang selama bertahun-tahun mengganggu operasional stasiun.

Bobby menjelaskan Stasiun Semarang Tawang merupakan salah satu stasiun bersejarah milik KAI yang telah beroperasi sejak 1914 dan berdiri di jalur kereta api pertama di Indonesia yang dibangun pada 1867. 

"Stasiun kita ini beroperasi 1914. Dulu ini adalah jalur kereta pertama. Di KAI kita punya lebih dari 680 stasiun yang merupakan cagar budaya," ujar Bobby saat menjelaskan proyek revitalisasi kepada Presiden, Kamis (30/7/2026).

Menurut Bobby, revitalisasi tersebut merupakan bagian dari program KAI untuk mengembalikan bangunan-bangunan bersejarah ke bentuk aslinya dengan tetap mempertahankan nilai arsitektur heritage. 

"Nah kami dalam program sekarang ini, kita kembalikan lagi ke bentuk asalnya. Waktu itu juga arahan dari Bapak Presiden untuk mempertahankan bangunan-bangunan heritage," katanya.

Revitalisasi tahap pertama difokuskan pada bagian fasad depan stasiun. KAI mengembalikan bentuk rangka bangunan hingga kubah (dome) sesuai desain awal ketika pertama kali dibangun. 

Bobby mengakui proses pemugaran tidak mudah karena banyak material asli bangunan yang sudah berusia lebih dari satu abad, termasuk lantai tegel yang sulit direstorasi. 

"Kalau kita lihat lantai ini, tegelnya sudah sangat sulit dicari penggantinya. Bahkan dibersihkan pun sudah tidak bisa," ujarnya.

Selain memulihkan nilai sejarah bangunan, revitalisasi juga diarahkan untuk mengatasi banjir rob yang hampir setiap tahun merendam kawasan Stasiun Tawang. 

Menurut Bobby, KAI telah meninggikan peron stasiun serta membangun kolam retensi (polder) pada tahap pertama. Selanjutnya, pada tahap kedua akan dibangun sistem pompa untuk mengalirkan air menuju laut. 

"Stasiun ini hampir tiap tahun banjir. Karena itu peron kita naikkan, kemudian kita buat kolam polder di depan. Tahap dua nanti kita bangun pompa untuk mengalirkan air ke laut," katanya.

Stasiun Semarang Tawang berdiri di atas lahan sekitar 14,5 hektare, dengan luas bangunan utama sekitar 5.300 meter persegi dan total luas bangunan sekitar 13.000 meter persegi. Revitalisasi dilakukan dalam dua tahap. 

Tahap pertama telah selesai dengan fokus pada pemulihan tampilan depan bangunan, sementara tahap kedua akan menyempurnakan sistem pengendalian banjir dan pekerjaan pendukung lainnya.

Dalam dialog tersebut, Presiden Prabowo juga menanyakan perkembangan jumlah penumpang yang dilayani Stasiun Tawang. Menjawab pertanyaan Presiden, Bobby mengatakan jumlah penumpang yang melewati stasiun tersebut terus meningkat. 

"Per Juni kemarin sudah mencapai 2,4 juta penumpang. Kami perkirakan pertumbuhannya sekitar 22 persen per tahun," ujarnya.

Sebelumnya, KAI mencatat Stasiun Semarang Tawang menjadi stasiun tersibuk keempat di Indonesia pada Semester I/2026 dengan lebih dari 2,15 juta aktivitas naik dan turun penumpang. 

Tingkat ketepatan waktu (on time performance/OTP) keberangkatan kereta juga mencapai 99,45%, mencerminkan peran strategis stasiun tersebut sebagai salah satu simpul utama transportasi di Pulau Jawa.

Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo juga menanyakan kondisi bangunan bersejarah Lawang Sewu yang berada tidak jauh dari Stasiun Tawang. Bobby menjelaskan Lawang Sewu juga merupakan aset KAI yang telah selesai direstorasi dan kini difungsikan sebagai museum. 

"Lawang Sewu milik kami juga, Pak. Sudah kami renovasi, sekarang dipakai untuk museum," katanya.

Restorasi Lawang Sewu dan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang menjadi bagian dari upaya KAI memadukan pelestarian bangunan bersejarah dengan peningkatan kualitas layanan transportasi. 

Selain menjaga nilai sejarah bangunan yang telah berdiri lebih dari satu abad, proyek tersebut diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan penumpang sekaligus mengurangi gangguan operasional akibat banjir rob yang selama ini menjadi tantangan utama di kawasan Semarang Utara.

Terkini