JAKARTA — Indonesia mendorong penguatan tata kelola mangrove berkelanjutan lewat pengembangan World Mangrove Center (WMC) pada ajang The 21st ASEAN Working Group on Forest Management (21st AWG-FM) yang berlangsung di Siem Reap, Kamboja.
“Arahan Bapak Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni sangat jelas, yaitu menjadikan Indonesia bukan hanya sebagai negara yang berhasil mengelola sumber daya hutannya secara berkelanjutan, tetapi juga sebagai mitra strategis yang aktif berbagi pengalaman, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi bagi kawasan maupun dunia,” ujar Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
WMC yang digagas oleh Kemenhut diproyeksikan sebagai pusat kerja sama global yang mengintegrasikan aspek ilmu pengetahuan, kebijakan, pendanaan, serta aksi nyata demi mengakselerasi upaya konservasi dan pemulihan mangrove secara global.
- Baca Juga Update Harga Pangan 30 Juli:
Proyeksi ini memanfaatkan Mangrove Information Center (MIC) Bali sebagai basis operasional utama sekaligus memperkokoh jaringan ASEAN Mangrove Network sebagai fondasi kolaborasi regional.
“Kami ingin membangun sebuah platform yang mampu menghubungkan pemerintah, akademisi, organisasi internasional, lembaga pembiayaan, sektor swasta, dan masyarakat sehingga upaya konservasi mangrove dapat dilakukan secara lebih cepat, terukur, dan berdampak nyata,” kata Ristianto.
Selain itu, Indonesia mengemukakan bahwa penguatan legitimasi WMC bakal terus digelorakan dalam berbagai ajang internasional seperti COP30, UNFF21, serta APEC guna mewujudkan tata kelola mangrove dunia yang kian sinergis.
Di samping itu, dalam pertemuan 21st AWG-FM tersebut, delegasi Indonesia menegaskan bahwa ekosistem mangrove memegang fungsi vital sebagai pilar mitigasi serta adaptasi perubahan iklim, pertahanan kawasan pesisir, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pendongkrak taraf hidup masyarakat.
Kendati demikian, ekosistem mangrove di kawasan Asia Tenggara masih membenturkan diri dengan pelbagai kendala berupa deforestasi, alih fungsi lahan, hantaman perubahan iklim, serta polusi yang menuntut intensifikasi kerja sama antarnegara kawasan.
Kelahiran ASEAN Mangrove Network (AMNet) di Surabaya pada 2014 silam menjadi tonggak sejarah krusial dalam merajut keselarasan langkah negara-negara ASEAN demi menjaga kelestarian mangrove. Sejak momentum tersebut, Indonesia senantiasa konsisten mengemban peran terdepan dalam memajukan jejaring kemitraan ini.
Melalui pertemuan ini pula, delegasi Indonesia memaparkan sederet pencapaian AMNet Phase I, mulai dari pembangunan sistem informasi mangrove regional, penerapan model silvofishery, pelaksanaan lokakarya tingkat kawasan, hingga perumusan ASEAN Strategy on Sustainable Mangrove Ecosystem Management 2025–2030 beserta pedoman teknis operasionalnya.
Tidak hanya itu, Indonesia turut menyatakan dukungan penuh terhadap realisasi AMNet Phase II demi mengoptimalkan transfer pengetahuan, mengatrol kapasitas negara anggota, memperluas praktik pengelolaan berbasis komunitas, serta menyukseskan program ASEAN One Billion Trees Growing Initiative (OBTGI).